Penyanyi Jazz terbaik di Indonesia masa kini
Penyanyi Jazz terbaik di Indonesia masa kini
Siapa saja penyanyi jazz terbaik di tanah air? berikut daftarnya.
Tompi
Tompi lahir di Kota Lhokseumawe, Aceh, 22 September 1978, dari pasangan Teuku Zulkifli dan Safura.
Dia dibesarkan di Aceh sehingga karakter vokalnya dipengaruhi oleh nyanyian tradisional asal Aceh dan dari mengaji Al-Qur'an.
Penyanyi Jazz
Ia dikenal dan populer sebagai penyanyi Jazz melalui album Bali Lounge dan juga solo albumnya.
Ia melantunkan lagu "Keindahan di Dunia", yang merupakan karya dari grup musik The Fly, yang sebagian dari liriknya dinyanyikan menggunakan Bahasa Aceh.
Lagu tersebut menceritakan duka terhadap Gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004, yang sempat melanda Aceh pada saat itu.
Ia juga merilis album bersama penyanyi Alda Risma.
Ia merupakan anggota dari grup musik trio bernama Trio Lestari dengan dua orang sahabatnya, yakni (alm.) Glenn Fredly dan Sandhy Sondoro.

Sebelumnya, ia keluar dari grup musik Ecoutez! karena ingin bersolo karier.
Pada tahun 2019, ia menyutradarai film berjudul "Pretty Boys", yang berhasil menembus ajang Piala Maya 2020 melalui kategori Penyutradaraan Berbakat Film Karya Perdana Terpilih.
Dokter Tompi
Selain sebagai penyanyi jazz dan pembawa acara dia juga berprofesi sebagai seorang dokter, dengan nama lengkapnya adalah Dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE.
Dia merupakan seorang dokter lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan telah meraih gelar spesialis bedah plastik pada tahun 2010.
Ia membuka praktek di Beyoutiful Aesthetic Clinic yang beralamat di Jalan Pakubuwono VI nomor 5A, RT 3, RW 3, Gunung, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan.
Album :
- Cherokee (2003)
- Bali Lounge (2004)
- T (2005)
- Soulful Ramadhan (2006)
- Playful (2007)
- My Happy Life (2008)
- Paris Jakarta Express (2009)
- Tak Pernah Setengah Hati (2010)
- Sounds of Ramadhan (2011)
- "Menghujam Jantungku" (2012)
- Romansa
Sandhy Sondoro
Musisi satu ini adalah seorang penyanyi, pencipta lagu dan pemain gitar asal Indonesia yang memulai karier musiknya di Jerman.
Sandhy Sondoro lahir dari keluarga yang mencintai musik.
Di rumahnya selalu terdengar musik Pop Amerika, Folk, Jazz dan Blues dari permainan gitar ibu atau ayahnya sehari-hari.
Di Indonesia, Sandhy Sondoro mulai bermain musik di sebuah band ketika SMA.
Sandhy membawakan lagu-lagu rock dari band Van Halen, Mr. Big atau The Black Crowes dalam band tersebut.
Pada usia 18 tahun ia pergi mengunjungi pamannya di California dan tinggal di sana untuk beberapa waktu.
Setahun kemudian ia pergi ke Jerman untuk belajar arsitektur.
Sandy memulai karier musiknya sebagai musisi jalanan di kota Berlin, mengamen di Metro, dan bermain musik dari pub ke pub.
Di jalanan Berlin ini pula ia mulai dikenal dan berkenalan dengan sejumlah musisi dan produser.
Setelah mengeluarkan album bertitel Why don't We pada 25 April 2008, pada akhirnya karya musiknya mendapat apresiasi positif di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya.
Penyanyi berdarah Jawa, Bugis, Minang dan Palembang ini menikahi Ade Sechan, adik dari presenter Sarah Sechan, pada 31 Agustus 2012.
Album :
- Why Don't We (2008)
- Jazz In The City with Sandhy Sondoro (kompilasi) (2009)
- Sandhy Sondoro (2010)
- Find The Way (2012)
- Vulnerability (2014)
- Berlin! Berlin! Lck Lieb Dir So Sehr (2016)
- Love Songs (2016)
Musikalitas yang diusung Sandhy sebagai seorang penyanyi, penulis lagu dan musisi ber genre : Soul, Blues, Akustik.
Selain olah vokal, dia juga mampu memainkan instrumen Gitar.
Sandhy juga membuat label musik sendiri yang dinamakan Sondoro Music, bisa diakses melalui situs web sondoromusic.com.
Indra Lesmana
Indra Lesmana adalah salah satu musisi jazz, produser, komposer dan sound engineer dari Indonesia.

Dia dilahirkan di Jakarta, 28 Maret 1966, merupakan anak dari pasangan tokoh musik Indonesia.
Ayahnya adalah Jack Lesmana seorang tokoh jazz Indonesia dan ibunya adalah Nien Lesmana seorang penyanyi senior berdarah Jawa pada tahun 1960-an.
Indra adalah adik kandung dari Mira Lesmana seorang produser film Indonesia, dan pernah menikah dengan penyanyi Indonesia Sophia Latjuba.
Indra juga pernah menjadi salah satu juri Indonesian Idol pada periode 2004 - 2008 dan 2014 serta menjadi perwakilan juri Indonesia pada kompetisi Asian Idol pada tahun 2007.
Karir
Awal Karir
Karier Indra di musik dimulai saat usia 10 tahun, Ia tampil bersama ayahnya di Bandung pada bulan Maret 1976 dengan instrumen keyboard.
Dua bulan kemudian di Taman Ismail Marzuki, Indra bermain keyboard pada konser jazz yang melibatkan Jack Lesmana, Benny Likumahuwa, dan Broery Marantika.
Tahun 1978, Indra merekam dan merilis album pertamanya "Ayahku Sahabatku".
Sejak awal, gaya musik Indra banyak dipengaruhi oleh rekaman musisi : John Coltrane, Miles Davis, McCoy Tyner dan Charlie Parker.
Tahun 1978, Indra dan ayahnya tampil dalam pekan budaya ASEAN Trade Fair di Australia.
Kemudian Indra mendapatkan beasiswa penuh untuk sekolah di New South Wales Conservatory School of Music di Sydney.
Kementerian Luar Negeri Australia pun memberikan izin menetap bagi Indra dan keluarganya.
Karir di Australia
Selama di Australia, Indra mendapatkan banyak ilmu dari Don Burrows, Roger Frampton dan Paul Mc Namara.
Karier musiknya berkembang bersama musisi Australia terutama kelompok musik jazz seperti The Basement dan Soup Plus.
Indra juga berpartisipasi dalam Manly Jazz Festival setiap tahunnya sampai tahun 1985.
Indra juga bertemu musisi jazz tingkat dunia, seperti Chick Corea, Dizzy Gillespie, Mark Murphy, David Baker, dan Terumasa Hino dan bisa berbagi pengalaman bersama mereka.
Bersama ayahnya, Indra membentuk band bernama "Jack and Indra Lesmana Quartet bersama Karim Suweileh dan James Morrison.
Mereka merilis album "Children of Fantasy" tahun 1981 saat berkunjung ke Indonesia.
Saat kembali ke Australia, Indra membentuk band yang beraliran latin-jazz-fusion bersama Jack Lesmana, Steve Brien, Dale Barlow, Tony Thijssen and Harry Rivers.
Band ini mengunjungi Indonesia bulan Agustus 1982 dan melakukan tur di 13 kota.
Indra mengembangkan gaya jazz-fusion dengan membentuk band baru.
Bersama Steve Hunter, Andy Evans, Ken James, Vince Genova, dan Carlinhos Gonzalves, Indra membentuk "Nebula" tahun 1982.
Dalam album pertama mereka bertajuk "No Standing" terdapat 4 karya original Indra (No Standing, The First, Sleeping Beauty, ‘Tis time to part) dan ciptaan Steve Hunter, Samba for ET.
Tahun 1983, Indra bergabung dengan Sandy Evans, Tony Buck dan Steve Elphick membentuk band beraliran jazz modern "Women and Children First".
Album perdana mereka direkam tahun 1983.
Karier di Amerika
Bakat bermusik Indra tercium oleh industri jazz Amerika.
Zebra Records, perusahaan rekaman cabang dari MCA Records, menyatakan keinginan mereka untuk merilis album "No Standing" sebagai album solo Indra Lesmana.
Kesepakatan tercapai tahun 1984 dan album tersebut dirilis di Amerika Serikat, Indra pindah ke Amerika Serikat tahun 1985.
Ia membuat rekaman di Mad Hatter Studio dengan Vinnie Colaiuta, Michael Landau, Jimmy Haslip, Airto Moreira, Charlie Hadden, Bobby Shew, dan Tooty Heath untuk albumnya yang bertajuk "For Earth and Heaven".
Album tersebut di rilis tahun 1986 dan menjadi album internasionalnya yang kedua bersama Zebra Records.
Kedua singelnya, "No Standing" (dari album "No Standing") dan "Stephanie" (dari album "For Earth and Heaven") berhasil menduduki Billboard Charts untuk Jazz dan nomor satu di tangga lagu radio di Amerika Serikat.
Karier di Indonesia
Tak hanya dengan musisi jazz dunia, Indra pun sering kali berkolaborasi dengan musisi jazz tanah air.
Indra membuat kelompok musik dan album bersama seperti :
- PIG : Pra Budi Dharma, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan.
- Java Jazz : bersama Mates, Donny Suhendra dan Embong Rahardjo.
Indra menjadi ikon jazz Indonesia dan menjadi musisi paling aktif dengan lebih dari 200 komposisi original, hampir 50 album, 18 album solo.
Indra menjadi produser beberapa album artis seperti :
- Titi DJ (Ekspresi)
- Sophia Latjuba (Hanya Untukmu, Tiada Kata)
- Ermy Kulit (Saat yang Terindah)
- soundtrack Rumah Ketujuh, produser : Mira Lesmana
Penampilan internasional
Pada tahun 2008, Indra Lesmana diundang untuk tampil di acara Asia-Pacific Weeks di kota Berlin, Jerman.
Tampil bersama Gilang Ramadhan dan Pra Budidharma, trio ini berhasil memukau para penonton di House of World Culture, Berlin.
Pada 2011, album Love Life Wisdom album karya LLW (Indra Lesmana, Barry Likumahuwa, dan Sandy Winarta) berhasil masuk peringkat ke-18 sebagai Most Downloaded Albums di iTunes.
Pada Desember 2011, Indra Lesmana, Barry Likumahuwa, dan Sandy Winarta yang tergabung dalam band LLW tampil di Blue Note Tokyo, sebuah klub jazz prestisius di Tokyo, Jepang.
Mereka menjadi perwakilan Indonesia pertama yang tampil di klub jazz kelas satu tersebut, LLW tampil bersama penyanyi Dira Sugandi dan rapper Kyriz.
Pada Mei 2012, Everette Harp, saksofonis asal Los Angeles, Amerika Serikat, dan Indra Lesmana Quartet, yang terdiri dari Indra Lesmana, Barry Likumahuwa, Sandy Winarta, dan Denny TR, melakukan tur Asia ke tiga negara: Malaysia, Indonesia, dan Jepang.
Di Malaysia, mereka tampil di Kuala Lumpur International Jazz Festival.
Di Indonesia, dua malam penampilan mereka di Red White Jazz Lounge, di Kemang, Jakarta Selatan dipenuhi penonton.
Sedangkan di Jepang, empat penampilan mereka dalam dua hari di Blue Note Tokyo juga meraih simpati besar dari para penonton lokal.
Karier di luar musik
Indra Lesmana dan Istrinya, Hanny Trihandojo memulai sebuah perusahaan rekaman bernama Inline Music pada tahun 2000.
Sejak berdirinya, Inline Music telah memproduksi beberapa album dari beberapa musisi ternama seperti Monita Tahalea dan grup Java Jazz.
Pada tahun 2010, Indra juga membuka Red White Jazz Lounge, sebuah klub jazz di kawasan Kemang, Jakarta.
Klub jazz ini menyuguhkan penampilan musik jazz 5 malam dalam seminggu.
Pada tahun 2011, Indra juga mulai kembali mengajar kelas privat improvisasi jazz.
Referensi :
- https://id.wikipedia.org/wiki/Tompi
- https://id.wikipedia.org/wiki/Sandhy_Sondoro
- https://id.wikipedia.org/wiki/Indra_Lesmana
0 Response to "Penyanyi Jazz terbaik di Indonesia masa kini"
Post a Comment